




May 2012 (12)
March 2012 (11)
February 2012 (14)
December 2011 (15)
November 2011 (8)
October 2011 (19)
September 2011 (13)
August 2011 (21)
July 2011 (7)
June 2011 (5)
May 2011 (16)
April 2011 (24)
March 2011 (19)
February 2011 (12)
January 2011 (7)
December 2010 (29)
November 2010 (23)
October 2010 (45)
September 2010 (24)
August 2010 (3)


Beranda » Buletin Qum » LOKALISASI MADZHAB
Jumat, 17 Februari 2012 - 10:00:46 WIB
LOKALISASI MADZHAB
Diposting oleh : Admin
Kategori: Buletin Qum
- Dibaca: 84 kali
وَإِذِ اسْتَسْقَى مُوسَى لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ (البقرة:60)
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu". Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan” (Al Baqarah: 60).
Nabi Ya’kub AS (Israel) memiliki 12 orang anak laki-laki. Dari ke 12 anak inilah kemudian muncul 12 suku Israel yang masing-masing suku menisbatkan namanya kepada orang tuanya. Mereka menempati wilayah yang berbeda namun tetap bersaudara. Dalam suatu perjalanan mereka kehausan dan meminta kepada Musa AS agar mengajukan “Projek Proposal” (baca: berdo’a) kepada Allah agar segera dibuatkan sarana air bersih. Allah mengabulkan keinginan mereka dengan memerintahkan agar Musa memukulkan tongkatnya ke sebuah batu. Ketika batu itu dipukul dan memancarkan 12 mata air, Allah menginstruksikan agar masing-masing suku mengambil air hanya dari jatahnya, tidak menyerobot “wilayah” saudaranya itu. Dan sebagai pengikat kebersamaan meraka, Allah turunkan makanan “pemersatu” berupa Al Manna dan As Salwa, semua suku menikmatinya. Demikianlah ketetapan Allah bagi Bani Israel agar supaya mereka memperoleh kebahagiaan dan kedamaian. Bahagia karena tercukupi sandang-pangannya dan damai karena tetap terpelihara persaudaraannya.
وَقَطَّعْنَاهُمُ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ أَسْبَاطًا أُمَمًا وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى إِذِ اسْتَسْقَاهُ قَوْمُهُ أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ فَانْبَجَسَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ وَظَلَّلْنَا عَلَيْهِمُ الْغَمَامَ وَأَنْزَلْنَا عَلَيْهِمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (الاعراف:160)
Artinya: “Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu!". Maka memancarlah dari padanya dua belas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. (kami berfirman): "Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezkikan kepadamu". Mereka tidak menganiaya Kami, tapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri.” (Al A’raf: 160).
Namun sayang, Bani Israel memang tidak pernah merasa puas dengan pemberian Allah. Mereka tidak merasa cukup dengan jatah yang Allah berikan. Mereka menginginkan ada “Perbandingan Makanan“. Padahal untuk itu mereka harus pergi ke “Luar Negeri”. (Adalah menarik bahwa Musa AS sebagai Kepala Negara tidak memberikan Rekomendasi keinginan mereka itu, namun hanya membiarkan saja karena nampaknya mereka tidak dapat dicegah). Akibatnya mereka dihinakan Allah, jatuh dalam kehinaan dan krisis ekonomi.
وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَنْ نَصْبِرَ عَلَى طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ اهْبِطُوا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُمْ مَا سَأَلْتُمْ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآَيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (البقرة:61)
Artinya: “Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, Kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk Kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya". Musa berkata: "Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta". Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.” (Al Baqarah: 61).
Muhammad SAW adalah Nabi terakhir, tak ada lagi Nabi setelahnya. Al Qur’an adalah kitab suci terakhir tak ada lagi kitab suci setelahnya. Sementara para Ulama Ummat Muhammad SAW diibaratkan seperti nabi-nabi terdahulu yang ditempatkan pada tempat dan daerah yang berbeda. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ (رواه ابو داود والترمذي وابن ماجة)
Artinya: “Sesungguhnya para Ulama itu adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan Dinar atau Dirham, yang mereka wariskan adalah ilmu. Oleh karena itu siapa yang mengambil ilmu tersebut maka ia telah mendapatkan keuntungan yang besar” (HR Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Sepeninggal Rasulullah SAW kaum muslimin mengalami banyak goncangan yang disebabkan oleh perselisihan paham di antara mereka. Pada akhirnya Allah menolong mereka dengan terbentuknya beberapa Madzhab yang diterima oleh semua kalangan. Secara umum Madzhab Ideologi dalam Islam terbagi menjadi 3 golongan; Ahlus Sunnah, Ahlul Bait dan Ahlul Bid’ah.
a. Yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah kelompok mayoritas yang berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah. Mereka adalah Asy’ariyah dan Maturidiyah, para pengikut Al Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Al Imam Abu Manshur Al Maturidi.
b. Yang dimaksud dengan Madzhab Ahlul Bait adalah mereka yang menisbatkan Madzhabnya kepada Ahlu Bait Rasulullah SAW. Mereka yang masih eksis hari ini adalah Ja’fariyah dan Zaidiyah (Pengikut Ja’far Ash Shadiq dan Zaid bin Ali). Syi’ah Ja’fariyah lebih dikenal dengan sebutan Syi’ah Imamiyah Itsana Asyariyah, Syi’ah dua belas Imam.
c. Adapun yang dimaksud dengan Ahli Bid’ah dalam istilah kami adalah sebuah kelompok yang gemar menggunakan kata Bid’ah untuk kelompok lain yang tidak sepaham dengannya. Mereka adalah At Taimiyah dan Wahhabiyah, para pengikut Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab.
Dalam bidang Fiqh mereka pun memiliki pegangan tersendiri.
a. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah berpegang kepada empat Madzhab (Abu Hanifah, Malik bin Anas, Asy Syafi’I dan Ahmad bin Hanbal).
b. Ahlul Bait berpegang kepada Fiqh Al Imam Ja’far Ash Shadiq dan Al Imam Zaid bin Ali.
c. Adapun Ahlul Bid’ah berpegang – menurut pengakuannya – kepada Madzhab Al Imam Ahmad bin Hanbal (salah satu Madzhab Ahlus Sunnah), meskipun dalam kenyataannya lebih tepat dikatakan mengikuti Ibnu Taimiyah dan lebih spesifik lagi hari ini Muhammad bin Abdul Wahhab. Itu sebabnya orang-orang di luar mereka menyebutnya dengan Wahhabi atau Wahhabiyah.
Maha Besar Allah yang telah meletakkan madzhab-madzhab itu di tempatnya masing-masing. Kesemua madzhab itu telah berbuat untuk wilayahnya. Syi’ah berbuat dan berbuah untuk Iran, Wahhabi berbuat dan berbuah untuk Kerajaan Saudi, dan Ahlus Sunnah telah berbuat dan berbuah untuk Nusantara dan sebagian besar negeri Islam lainnya. Seharusnya para Ulama mengerti bahwa pada dasarnya madzhab-madzhab itu memiliki dasar masing-masing dengan sumber keislaman yaitu Al Qur’an dan Sunnah. Tetapi pada saat yang sama mereka juga harus mengerti, kemudian menyampaikan kepada ummat, agar setiap negeri “menerima” jatah madzhab yang telah Allah kirimkan kepada mereka melalui para Ulama yang dahulu datang kepada mereka. Biarlah Syi’ah tetap di Iran dan sekitarnya, biarlah Wahhabi tetap di Kerajaan Keluarga Sa’ud dan sekitarnya dan biarlah Indonnesia tenang dengan Ahlus Sunnah Wal Jama’ahnya.
Namun begitulah ummat manusia yang tidak mau mengambil pelajaran, tidak puas dengan “Air Minum” yang Allah telah berikan kepada mereka. Anak-anak bangsa ini pergi ke sana kemari mencari cari “Hidangan” Madzhab yang lain. Apa yang akan terjadi di negeri berpenduduk mayoritas Islam ini selanjutnya? Lidah dan bibir mereka akan dibasahi caci maki, dan yang dicaci adalah saudaranya sendiri. Tangan-tangan mereka akan melukai dan yang dilukai adalah saudaranya sendiri. Darah-darah akan tertumpah dan yang menumpahkannya adalah saudaranya sendiri. Sekiranya para Ulama Negeri ini dapat mengambil pelajaran dari masa lalu, Insya Allah peristiwa Sampang (Madura) tidak akan terjadi. Tetapi lagi lagi kita dikejutkan dengan pernyataan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat yang seolah-olah mendorong “produksi” Syi’ah di Indonesia ditingkatkan. Mereka sepertinya tidak membaca –apalagi melihat fakta– bahwa sesungguhnya kemarahan penduduk Sampang bukan karena perbedaannya, melainkan karena caci-makinya. Kalau saja setiap orang meyakini kebenaran madzhabnya dan bersukaria dengan klaim itu di tengah kelompoknya, lain masalah. Masalahnya adalah ketika sekelompok orang menghina sahabat Rasulullah SAW di hadapan orang-orang yang mencintainya. Yang menjadi masalah adalah buku-buku yang menghina ajaran kaum Muslimin Nusantara. Ataukah Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah tak lagi berwajah Indonesia?
إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ (هود:88)
Artinya: “ …Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali” (Hud: 88).
Hasbunallah
Syarif Rahmat RA



| Mei, 2012 | ||||||
| M | S | S | R | K | J | S |
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
| 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
| 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
| 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
| 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | ||






Pengunjung hari ini : 119
Total pengunjung : 74129
Hits hari ini : 415
Total Hits : 318507
Pengunjung Online: 6
