




May 2012 (12)
March 2012 (11)
February 2012 (14)
December 2011 (15)
November 2011 (8)
October 2011 (19)
September 2011 (13)
August 2011 (21)
July 2011 (7)
June 2011 (5)
May 2011 (16)
April 2011 (24)
March 2011 (19)
February 2011 (12)
January 2011 (7)
December 2010 (29)
November 2010 (23)
October 2010 (45)
September 2010 (24)
August 2010 (3)


Beranda » Kolom Pengasuh » REFERENSI DAN TRADISI
Jumat, 17 Februari 2012 - 09:47:59 WIB
REFERENSI DAN TRADISI
Diposting oleh : Admin
Kategori: Kolom Pengasuh
- Dibaca: 128 kali
Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Sunni) dan Wahhabi sama dalam referensi. Selain Al Qur’an, keduanya menggunakan kitab-kitab Hadis semacam Shahih Al Bukhari, Shahih Muslim, Kutubus Sittah dan lainnya. Sedangkan kaum Syi’ah berbeda, sebab kitab Hadis mereka adalah Al Kafi, Al Istibshar, Man La Yahdhuruhul Faqih dan lainnya.
Tetapi dalam tradisi keislaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah memiliki banyak kesamaan dengan Syi’ah. Misalnya tradisi Dzikir berjama’ah, Ziarah Kubur, Tawassul, Hadiah pahala dan istighatsah serta peringatan hari-hari besar Islam. Kaum Wahhabiyah menganggap semua yang dikemukakan ini adalah Bid’ah. Demikian pula dalam bidang Akidah, kedua madzhab ini ada persamaannya terutama tentang sifat Allah. Ahlus Sunnah dan Syi’ah sepakat mengi’tikadkan bahwa Allah SWT tidak berada di satu tempat. Sementara Wahhabi meyakini bahwa Allah itu bertempat tinggal di Arasy di atas langit. Dari sinilah kemudian ada orang yang salah paham dengan mengatakan bahwa kaum Muslimin Indonesia generasi awal adalah penganut Syi’ah.
Yang membedakan antara Ahlus Sunnah Wal Jama;’ah dengan Wahhabiyah kaitannya dengan referensi itu adalah pemahaman dan penafsirannya. Satu hadis bisa saja diterima oleh keduanya, tetapi dalam menafsirkannya mereka berbeda. Pada umumnya Ahlus Sunnah mengikuti apa yang disampaikan para Huffazh generasi sebelumnya karena menurut mereka agama itu adalah warisan dan bukan hasil pemikiran apalagi penemuan. Sedangkan Wahhabiyah memaknai Hadis sesuai kemampuannya, karena menurut mereka manusia diberi kemampuan yang sama. Itu sebabnya meskipun sama referensinya, Ahlus Sunnah dan Wahhabiyah banyak perbedaannya.
Yang membedakan antara Ahlus Sunnah dengan Syi’ah adalah sumber pengambilan. Bagi Ahlus Sunnah, semua sahabat Rasulullah SAW adalah orang-orang jujur yang dapat diambil riwayat atau laporannya menyangkut Rasulullah SAW dan agama yang dibawanya. Sementara bagi Syi’ah secara umum –kecuali beberapa orang saja– sahabat Rasulullah SAW tidak dapat dipercaya. Bahkan tiga orang Khalifah pertama (Abu Bakar, Umar bin Khattab serta Utsman bin Affan) adalah perampok kekuasaan yang menjadi hak Ali bin Abi Thalib. Dikecualikan dalam hal ini adalah Syi’ah Zaidiyah, karena Syi’ah ini masih menganggap Kekhilafahan Abu Bakar, Umar dan Utsman sebagai Khilafah yang sah meskipun menurut mereka akan lebih baik kalau Ali bin Abi Thalib yang jadi Khalifah pertama. Adapun Syi’ah di Indonesia sepengetahuan kami tidak ada yang Zaidiyah. Itu sebabnya dalam buku-buku mereka penuh dengan caci maki terhadap para sahabat Rasulullah SAW terutama tiga Khalifah pertama dan Abu Hurairah. Di mata Syi’ah yang dikomandani oleh seorang pakar komunikasi dari Bandung itu, para sahabat tadi adalah manusia-manusia terkutuk yang nanti akan dibangkitkan kembali pada masa Imam Mahdi (yang sekarang sedang menghilang) untuk dihakimi dan diberi hukuman berat. Wallahu A’lam.
KH. Syarif Rahmat RA, SQ, MA



| Mei, 2012 | ||||||
| M | S | S | R | K | J | S |
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
| 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
| 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
| 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
| 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | ||






Pengunjung hari ini : 119
Total pengunjung : 74129
Hits hari ini : 409
Total Hits : 318501
Pengunjung Online: 6
